Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune
Subscribe to Zinmag Tribune by mail
Jakarta
Hujan Ringan
Suhu:25-33 C
Kelembaban:56-90%
Surabaya
Hujan Ringan
Suhu:24-35 C
Kelembaban:52-90 %
Yogyakarta
Hujan Ringan
Suhu:21-34 C
Kelembaban:52-96%
Denpasar
Berawan
Suhu:25-32 C
Kelembaban:60-92%

Julia Robert Syuting Film di Bali

Aktris Julia Robert dan Aktor Javier Barden sedang syuting film Eat, Pray, Love di Pecatu, Bali. Sudah hampir satu minggu ini Julia Robert melakukan syuting film di Bali

Ledakan di Pantai Bone Akibat Meteor

Para Ilmuwan menyatakan ledakan yang terjadi di perairan teluk Bone 8 Oktober 2009 akibat dari jatuhnya meteorit yang berasal dari Asteorit berdiameter 10 meter ke Bumi

Valentino Rossi Juara Moto GP 2009

The Doctor Valentino Rossi pembalap dari team Yamaha akhirnya menjadi juara Moto GP 2009 setelah finish diurutan 3 dalam GP Malaysia. Meski menyisakan satu seri lagi, raihan poin Rossi sudah tidak mungkin
dikejar oleh saingan terdekatnya Jorge Lorenso

Galaksi Bima Sakti

Susunan lengkap dari Galaksi Bima Sakti

Film This Is It Diputar Malam Ini

Malam ini film this is it akan diputar untuk kalangan terbatas. Dua anak Michael Jackson sudah tidak sabar untuk melihat film ayah mereka

Led Zeppelin Akan Reuni

Super Grup Band legendaris Led Zeppelin rencananya akan mengadakan reuni di Inggris tahun depan. Rencana reuni itu sudah sangat ditunggu-tunggu oleh penggemar Led Zeppelin diseluruh dunia.

Bima Sakti Jauh Lebih Besar

Sains
Bima Sakti, galaksi tempat bumi bernaung, ternyata memiliki massa 50 persen lebih besar daripada perkiraan semula dan berputar lebih cepat. Temuan ini membawa kabar buruk, karena kedua hal itu meningkatkan kemungkinan terjadinya tumbukan dengan galaksi lain.

Planet di Luar Tata Surya

Sains-Astronomi
Tiga astronom dari Universitas Toronto memperlihatkan foto pertama sebuah planet di sekitar bintang yang mirip Matahari. Mereka mengambil gambar itu menggunakan teleskop Gemini North dari Mauna Kea di Hawaii. Bintang muda itu bernama 1RXS J160929.1-210524 yang berjarak sekitar 500 tahun cahaya dari Bumi.

Bulan Baru Planet Saturnus

6:17 AM Reporter: HaemHome 4 Komentar


Para Ilmuwn telah menemukan bulan baru planet Saturnus. Bulan tersebut tersembunyi didalam salah satu cincin terluar planet tersebut. Wahana antariksa internasional Cassini menemukan bulan yang lebarnya sekitar 500 meter itu. Penemuan ini diumumkan oleh International Astronomical Union pada Selasa lalu.

Para ilmuwan sudah lama dibuat penasaran oleh formasi cincin G Saturnus, salah satu lengkungan paling misterius. Kini mereka menduga cincin G itu kemungkinan besar terbentuk dari pecahan beku yang menyebar ke berbagai arah ketika meteorit menabrak bulan yang baru ditemukan tersebut. Mereka mengkonfirmasi keberadaan bulan itu pada pertengahan tahun lalu setelah menganalisis gambar-gambar yang diambil Cassini. Saturnus memiliki lebih dari 60 bulan, 52 di antaranya telah memiliki nama.

Planet ke-enam dari sistem tata surya Galaksi Bima Sakti ini sangat unik. Saturnus memiliki cincin-cincin yang mengitarinya. Cincin tersebut terbuat dari potongan jutaan es yang mengelilingi planet tersebut. Saturnus adalah planet kedua terbesar di tata surya. Diameternya adalah 120.660 km atau 9 kali diameter bumi. Lama putaran rotasinya adalah 10 jam 14 menit (tercepat kedua setelah Jupiter) sedangkan masa orbitalnya 29.5 tahun.



Baca Selengkapnya...

Tepi Antariksa Telah Ditemukan

6:05 AM Reporter: HaemHome 0 Komentar


Para ilmuwan akhirnya berhasil menemukan pinggiran antariksa, perbatasan antara atmosfer Bumi dan luar angkasa. Dengan data dari sebuah instrumen baru yang dikembangkan oleh ilmuwan di University of Calgary, Kanada, para ilmuwan memberikan konfirmasi bahwa antariksa dimulai 118 kilometer di atas permukaan Bumi.

Sisanya tetap amat kabur, apalagi definisi perbatasan antara angkasa dan luar angkasa juga tidak jelas karena masih diperdebatkan. Para astronot, misalnya, menyatakan mereka telah mencapai antariksa setelah melewati batas 80 kilometer dari Bumi. Sedangkan perbatasan yang digunakan oleh banyak orang di industri antariksa adalah sekitar 100 kilometer.

Insinyur aeronautika Amerika terkemuka, Theodore von Karman, pernah menghitung bahwa pada ketinggian itu atmosfer begitu tipis sehingga nyaris tak berarti. Pada ketinggian itu, pesawat biasa tidak bisa berfungsi karena mereka tak dapat melaju cukup cepat untuk memperoleh gaya angkat aerodinamika. Berdasarkan data itu, batas 100 kilometer diterima oleh Federation Aeronautique Internationale (FAI), badan yang menetapkan standar aeronautika.

Meski demikian, Amerika Serikat tak pernah mengadopsi standar batasan itu secara resmi. NASA menyatakan sikap itu diambil karena penerapan standar batas akan mengakibatkan komplikasi pada isu hak terbang lintas batas satelit dan wahana orbiter lainnya. Kendali misi NASA menggunakan batas 122 kilometer sebagai ketinggian memasuki antariksa karena pada ketinggian itulah pesawat ulang-aliknya beralih dari mengemudikan pesawat dengan roket pendorong menjadi manuver di permukaan udara.

Pendapat lain menyatakan sinyal batas memasuki antariksa haruslah dipatok pada 21 juta kilometer karena pada titik itu gaya gravitasi Bumi tak lagi dominan.

Dalam studi baru ini, sebuah instrumen yang dinamai Supra-Thermal Ion Imager mendeteksi wilayah perbatasan itu dengan melacak angin atmosfer Bumi yang relatif pelan dan aliran partikel bermuatan di antariksa yang sangat kencang dapat mencapai kecepatan di atas 1.000 kilometer per jam.

Kemampuan mengumpulkan data di daerah itu sangat signifikan karena tingkat kesulitan melakukan pengukuran di kawasan itu amat tinggi, terlampau tinggi untuk dicapai balon dan terlalu rendah bagi satelit. "Baru dua kali pengukuran langsung terhadap aliran partikel bermuatan dapat dilakukan di kawasan itu, dan pengukuran pertama yang mencakup semua unsur, termasuk angin atmosfer atas," kata David Kundsen, salah seorang ilmuwan yang tergabung dalam proyek itu.

Instrumen itu dibawa oleh roket JOULE-II pada 19 Januari 2007. Dia bergerak pada ketinggian sekitar 200 kilometer di atas permukaan laut dan mengumpulkan data selama lima menit ketika melintasi "tepian antariksa". Temuan yang dilaporkan secara mendetail dalam Journal of Geophysical Research pada 7 April lalu ini diharapkan dapat membantu para ilmuwan memahami cuaca antariksa dan dampaknya terhadap Bumi.

"Data itu memungkinkan kami mengkalkulasi aliran energi di atmosfer Bumi, yang akhirnya dapat membantu kami mengerti interaksi antara antariksa dan lingkungan kita," kata Knudsen. "Itu bisa berarti pemahaman yang lebih dalam tentang kaitan antara bintik matahari dan pemanasan atau pendinginan iklim Bumi, serta bagaimana dampak iklim antariksa terhadap satelit, komunikasi, navigasi, dan sistem tenaga."


Baca Selengkapnya...

featured-video